Ambisi, cita, dan harapan adalah milik manusia, yang bervariasi mulai dari bentuk yang sederhana sampai yang paling "wah!" Ada yang mengantungkan cita-citanya setinggi bintang di langit, dan ada pula yang cuma setinggi pohon kencur di pekarangan rumah. Mungkin harapan yang tertanam hanya seluas pelukan tangan, tapi mungkin pula sepelukan gunung mahameru. Ada yang berambisi menjadi pimpinan kaliber dunia, dan ada pula yang cuma ingin mencapai pangkat ketua erte saja.
Kemungkinan untuk gagal selalu ada, seperti juga kemungkinan munculnya sukses. Usaha yang kau lakukan selalu menjanjikan dua alternatif, sukses atau gagal. Biasanya kegagalan mengundang rasa kecewa, frustasi. Nah, besar kecilnya kekecewaan yang kau alami banyak tergantung pada besar kecilnya harapan yang tertanam, tinggi rendahnya cita, dan tingkat ambisi yang memenuhi dadamu. Dan bicara tentang frustasi , ambang rasa ini berbeda pada setiap orang, yang juga di pengaruhi oleh besar kecilnya 'nyali' seseorang.
Satu hal yang jelas dan harus kau camkan adalah, bahwa kegagalan itu perlu ditatap, jangan dihindarkan atau di coba sembunyikan. Tataplah dia, kalau kau memang ingin sukses dan mampu memetik buah dari pengalamanmu. Kau masih ingat pepatah, " pengalaman adalah guru yang terbaik"? Nah, ungkapan itulah yang paling tepat direnung dan di resapkan dalam-dalam. Menatap kegagalan dan menyimaknya dengan teliti akan membawamu kepada fakta yang membeberkan penyebab kegagalanmu. Dan kalau kau mampu menjadikannya pengalaman berharga, kau pun tak perlu meniru keledai yang terpaksa terantuk pada batu yang sama.



0 komentar:
Posting Komentar