Penggunaan antibiotik oleh pasien tidak boleh sembarangan, apalagi jika digunakan tanpa resep dokter. Pasien harus memperhatikan waktu, frekuensi dan lama pemberian sesuai rejimen terapi yang diberikan oleh dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak perlu atau berlebihan mendorong berkembangnya resistensi dan multipel resisten terhadap bakteri tertentu yang akan menyebar melalui infeksi silang. Terdapat hubungan antara penggunaan (atau kesalahan penggunaan) antibiotik dengan timbulnya resistensi bakteri penyebab infeksi nosokomial. Resistensi tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat diperlambat melalui penggunaan antibiotik yang bijak. Dalam penghentian penggunaan antibiotik pada seorang pasien tidak boleh dilakukan tanpa sepengatahuan dokter atau apoteker (harus diminum sampai habis kecuali terjadi reaksi yang tidak diinginkan). Jangan segan untuk bertanya kepada dokter atau apoteker anda ketika mengkonsumsi antibiotik.
Berikut ini beberapa informasi antibiotik yang perlu diketahui :
1. Gentamisin
Gentamisin memiliki indeks terapi yang sempit, karena itu sangat diperlukan dosis individual.
2. Klindamisin
Untuk menghindari iritasi esophagus sebaiknya diminum bersama segelas air
3. Rifampisin
Tidak diminum bersama makanan karena akan mengurangi absrobsi rifampisin
4. Tetrasiklin
Hindari digunakan pada anak dibawah 12 tahun dan pada wanita hamil, hati-hati digunakan pada lansia jika diduga terjadi gangguan ginjal
5. Coamoksiklav
Coamoksiklav cenderung menyebabkan diare akibat antibiotik dibandingkan amoksisilin dan infeksi C. difficile. Hindari digunakan pada pasien beresiko terinfeksi C. difficile, misalnya pasien berusia > 65 tahun, pasien yang menggunakan proton pump inhibitor (PPI) atau pasien yang baru saja dirawat di RS.
6. Sefalosporin, Dapat menyebabkan infeksi C.difficile karena
klindamisin, mengganggu flora usus normal
derifat penisilin
dan kuinolon
Berikut ini beberapa contoh penggunaan antibiotik yang membutuhkan kewaspadaan dalam penggunaannya :
1. Kotrimoksazol, dapat menyebabkan efek samping yang serius, seperti diskrasia darah dan reaksi kulit yang berat (Stevens Jonhson Yndrome). Oleh karena itu sebaiknya hanya digunakan untuk Pneumonicystis Pneumonia.
2. Aminoglikosida dan Vankomisin yang bersifat nefrotoksik harus dimonitor kadar dalam darah terutama pada pasien dengan gangguan ginjal, bila perlu dilakukan penyesuaian dosis rejimen.
3. Aminoglikosida dan Vankomisin yang bersifat nefrotoksik harus dimonitor kadar dalam darah terutama pada pasien dengan gangguan ginjal, bila perlu dilakukan penyesuaian dosis rejimen.
4. Vankomisin infus sebaiknya diinfuskan secara pelan lebih dari 100 menit (kecepatan maksimum 10mg/menit) untuk menghindari Red Man Syndrome.
5. Antibiotik topikal sebaiknya dibatasi hanya untuk penggunaan pada mata dan telinga karena dapat menyebabkan resistensi antibiotik dan hipersensitivitas. Jika penggunaan antibiotik topikal diperlukan maka pilih antibiotik yang tidak diabsorpsi melalui kulit (bukan antibiotik sistemik), contoh: Mupirocin.
6. Antibiotik intravena hanya digunakan bila rute oral dan rektal tidak dapat dilakukan atau jika diinginkan kadar dalam serum yang tinggi dalam waktu cepat. Sebagai contoh kadar puncak metronidazol dalam darah dapat segera dicapai dengan pemberian intravena, oral setelah 1 jam dan 3 jam setelah diberikan rektal (Suppositoria). Semua sediaan Metronidazol intravena, oral maupun rektal mempunyai bioavailabilitas yang ekivalen. Infus intravena sebaiknya diberikan pelan (5 ml/menit).




0 komentar:
Posting Komentar